29/01/2021 By Masjito 0

Bersepeda Karena Butuh, Hobi, atau Nostalgia ?

Jawabannya tergantung masing-masing he he ..

Bersepeda alias sepedahan bahasa Jawa-nya atau sapedahan bahasa Sunda-nya (maaf kalau salah) saat ini sedang luar biasa menjadi tren baru yang sekaligus euforia dimana-mana, berawal ketika adanya fenomena wabah Covid-19 yang sampai saat ini telah berlangsung hampir 1 tahunan, orang tiba-tiba saja berbondong-bondong membeli sepeda sehingga mengakibatkan sepeda sempat menghilang dari toko dan menjadi barang ghaib (terutama sepeda lipat / folding bike), kalaupun ada harganya sudah berubah menjadi berlipat-lipat alias muahal banget. Itupun orang tetap rela antri untuk PO ke berbagai pihak yang menawarkan, padahal entah kapan sepedanya akan datang karena proses import juga terkendala akibat Covid sehingga barang dari luar sulit dan lambat masuk bisa berbulan-bulan bahkan.

Entah siapa yang memicu dan memulai, yang saya tahu sih karena ada informasi dari para ahli kesehatan yang mengatakan melawan Covid itu diperlukan imunitas tubuh yang bagus, dan imunitas yang bagus akan terbentuk jika orang banyak berjemur di jam tertentu dan rajin berolah raga tentunya. Mungkin sepeda dianggap sebagai yang pas untuk bisa mewakili olah raga dimasa pandemi ini selain bisa dilakukan secara sendirian, bersepeda juga adalah olah raga yang fun karena bisa sambil jalan-jalan kemana-mana mau sekaligus bisa berjemur, sehingga saat ini mulai dari anak-anak, orang dewasa dan kakek nenek sekalipun sangat ramai bersepeda.

Bagi saya pribadi bersepeda sebenarnya bukanlah hal yang baru, saya sudah mulai lagi bersepeda sekitar 3 atau 4 tahun yang lalu sebelum bersepeda menjadi tren baru seperti saat ini. Di masa lampau bahkan bersepeda adalah menjadi rutinitas / keseharian yang pernah saya lakoni dimasa kecil, bukan karena hobi melainkan karena memang jamannya dan kebutuhan saat itu. Tepatnya adalah mulai tahun 80-an disaat saya mulai menginjak bangku SMP selama 3 tahun kemudian bersambung masa SMA selama 3 tahun sampai lulus. Setelah itupraktis berhenti total karena saya hijrah ke Bandung (merantau) untuk mengadu nasib bahasa dulu-nya, yaitu pengen jadi tentara (ini film tersendiri yang panjang untuk diceritakan) he he. Jadi klo dihitung-hitung total jarak saya bersepeda selama 6 tahun (SMP plus SMA) udah bisa keliling dunia belum ya wkwk.

Cerita bersepeda berawal ketika lulus SD dan waktunya pendaftaran masuk SMP, saat itu hanya karena mengikuti teman-teman yang lain akhirnya saya putuskan untuk ikut mencoba keberuntungan dengan mendaftar ke SMP Negeri satu-satunya yang terdekat dan terkenal waktu itu diwilayah Banyuwangi Selatan yaitu SMP Negeri Cluring. Karena masih terbatasnya pengetahuan dan lain-lain memang pada saat itu hanya ada beberapa SMP Negeri di Kabupaten Banyuwangi, tidak banyak seperti sekarang. Bagi yang domisilinya di wilayah agak kota atau perkotaan tentu mereka sudah tahu harus ke SMP Negeri mana yang mereka pilih karena ada beberapa alternatif yang sudah diketahui, tapi bagi saya dan anak-anak lain di kampung saya hanya ada SMPN Cluring yang kami tahu karena selalu kami dengar sejak menjelang lulus SD paling banyak disebut oleh siapapun anak-anak lulusan SD termasuk orang tua yang ingin anaknya melanjutkan ke sekolah negeri. Artinya adalah kebanggaan luar biasa saat itu bagi orang tua jika anaknya bisa masuk ke SMP Negeri yang satu ini.

Singkat kata tibalah waktunya pengumuman hasil testing, sungguh terlalu berkesan jika ingat saat-saat penting pengumuman itu, masa kecil saya adalah termasuk anak yang agak minder dalam pergaulan, jujur memang selain kurang gaul waktu kecil karena nenek saya yang memelihara saya dari kecil terlalu amat sayang dengan saya sehingga sangat jarang saya diperbolehkan pergi atau mainyang jauh-jauh seperti teman-teman yang lain. Kemudian rasa minder itu juga mungkin karena saat itu disekolah kami banyak sekali teman-teman lain yang bertubuh lebih tinggi dan besar dibanding saya yang memang secara umur juga lebih tua dari saya, hal ini mengingat digenerasi 80-an itu anak-anak sekolah SD di kampung saya belum ada pembatasan-pembatasan yang penting justru mau sekolah saja sudah bagus. Saya pun mulai ke sekolah dengan bersepatu dan berseragam baru dimulai saat kelas 4 SD dimana saat itu sudah mulai ada yang namanya SD Inpres, sebelumnya kami ke sekolah tidak berseragam dan tidak beralas kaki alias NYEKER he he ..

Walhasil dari sekitar 25 lulusan yang mendaftar dari sekolah saya berasal, ternyata saat pengumuman hanya nomer saya “1111” yang muncul didaftar papan pengumuman yang dipasang oleh sekolah dan itulah nomor saya (nomor cantik makanya saya hafal bener he he). Terbayang pengumuman dipampang tinggi di tembok dan ditulis agak besar-besar dikertas kartun yang berderet panjang karena memang yang datang ribuan untuk melihat hasil tes meskipun yang diterima hanya ratusan sekitar 300-an mungkin karena alokasinya untuk 9 kelas mulai dari kelas A sampai I seingat saya.

Begitu melihat hanya nomor saya yang ada dari sekitar 25 anak yang mendaftar dari sekolah dan kampung saya, lucu saat itu saya menangis wkwk .. bukan karena senang loh tapi karena bingung dan takut, maklum panik gak ada temen bagaimana nanti saya ke sekolah yang jaraknya sekitar 12-15 Km dari kampung saya, trus sama siapa saya berangkat dan pulang, dan lain-lain yang terbersit difikiran saat itu. Harap maklum ya sodere-sodare he he .. kampung saya itu adalah dusun kecil yang berada ditengah sawah, sebenarnya ada sekitar 6 jalan akses untuk keluar dari kampung saya ke desa-desa sebelah yang berbatasan, tapi semuanya ke 6 jalan tersebut adalah jalan sawah maksudnya sepanjang jalan kiri dan kanannya adalah sawah dan tidak ada rumah satupun, istilah daerahnya adalah BULAK yaitu persawahan yang luas sepanjang mata memandang.

Setelah waktu berjalan, semuanya memang harus dilalui dengan minimnya pengalaman dan pergaulan, akhirnya ternyata ada dari tetangga kampung dan sepanjang perjalanan menuju sekolah banyak sekali teman pergi dan pulang sekolah, meskipun tetep kalau sudah masuk kampung saya ya sendiri lagi hi hi ..

Hari-hari selama 3 tahun di SMP Neger Cluring ini saya jalani dengan full bersepeda, saya dibelikan sepeda “JENGKI PENTHOL” masih inget warna hijau botol oleh kakek nenekku. Jengki Penthol ini istilah waktu itu untuk menandakan bahwa sepeda itu asli buatan RRT (gak tahu juga bener nggaknya), klo yang lokal tidak ada penthol-nya dan katanya agak kurang bagus kualitasnya, begitulah. Ini adalah masa-masa keemasan dalam sejarah bersepeda saya, betapa tidak hari-hari dilewati dengan sepeda, berangkat dan pulang sekolah menggunakan sepeda, main kemana pakai sepeda, saat itu pagi hari diseluruh ruas jalan di Banyuwangi seandainya sudah ada DRONE maka bisa dilihat sepanjang jalan mengular panjang tak ada putusnya anak sekolah berseragam warna putih atau pramuka bersepeda ke sekolah. Pilihan sekolah agak jauh jaman saya hanya bisa ditempuh dengan dua alternatif saja yaitu indekost bagi yang berduit dan bersepeda atau naik kendaraan umum (yang ini masih jarang) bagi yang biasa-biasa seperti saya, disekolahpun yang ada adalah hanya parkir sepeda yang puanjaaaaaang bangunannya dan bahkan karena tidak muat sehingga semua tetangga-tetangga sekolah yang memiliki rumah dijadikan lahan parkir sepeda berbayar oleh pemiliknya, luar biasa silakan dibayangkan he he.

Berangkat dan pulang sekolah adalah hal paling mengasyikkan saat itu, bercanda, bergurau sepanjang jalan, cuaca hujan dan panaspun sudah tidak aneh bagi kami karena kebiasaan, tidak ada cerita kehujanan kemudian sakit pilek, batuk kayak anak-anak kota sekarang (termasuk anak-anak saya) he he, kami malah kadang sangat menikmati, maklum orang kampung hujan itu bagian dari serial kehidupan biasa, kebayang kan dulu hujan deras kami malah biasa sengaja keluar rumah sama temen-temen yang bertetangga untuk sambil hujan-hujanan kami bermain sepak bola (menggunakan bola plastik) wkwk … suerrr asli.