Sekilas Tentang Masjito
Assalamu'alaikum Wr. Wb,
Tidak ada yang istimewa dari saya, terlahir dengan nama SUJITO
dari seorang petani di kampung kecil tengah sawah di ujung timur Pulau Jawa tepatnya Banyuwangi Selatan. Cita-cita kecilku adalah pengen jadi TENTARA yang gagah berani biar kalau pulang kampung disegani semua orang he he. Kekurangan biaya dan keinginan menjadi tentara tersebut membuat saya hanya menamatkan sekolah sampai SMA saja.
Sempat test di perguruan tinggi lewat SIPENMARU (sistim penerimaan mahasiswa baru) waktu itu tapi hanya sebatas iseng saja mengisi waktu karena memang tidak ada niatan sama sekali kuliah mengingat disamping biaya memang tidak ada dan juga bukan cita-cita saya. Akibatnya sama sekali tidak serius dan tidak mempersiapkan diri, dan benar saja hasil akhir adalah "TIDAK LULUS".
Tidak berselang lama sejak itu saya hengkang ke Jakarta menyusul paman yang menjadi tentara di CPM Guntur Jakarta Selatan, sempet tinggal hampir 1 tahun tetapi keputusannya adalah tidak betah tinggal di Jakarta yang hiruk pikuk dan puanasss. Akhirnya karena keinginanan me-realisasikan cita-cita kecil dulu saya putuskan untuk hijrah ke Bandung mencoba keberuntungan menjadi tentara.
Tinggal di daerah Cimahi (kota hijau) sebutan untuk kota yang memang hijau oleh warna baju militer, membuat hari-hariku selalu diwarnai dengan hal-hal yang berbau tentara, kemanapun pergi selalu bertemu tentara, bangun pagi-pagi disebelah rumah ada selokan besar terdengar suara yang aneh seperti ada yang menerjang air sehingga bergemuruh ternyata juga tentara (sedang latihan pagi). Akhirnya proses berujung dengan pendaftaran SECABA dan saya sudah melengkapi semua persyaratan yang dibutuhkan tinggal menunggu waktu testing dimulai, diluar dugaan ada spucuk surat yang dikirim oleh ibuku yang kurang lebih isinya "keberatan saya menjadi tentara dan lebih baik memilih pekerjaan lain saja". Sempet bingung tetapi tidak terlalu lama aku putuskan untuk tidak melanjutkan karena kebetulan memang sudah mulai meluntur cita-cita kecil itu ketika keseharianku dihadapkan dengan segala seuatu yang berbau tentara. Yah menghargai keinginan seorang ibu keputusannya adalah MUNDUR sebelum bertempur he he ....
Mengubur cita-cita kecil dengan singkat membuatku jadi bingung harus membuat cita-cita baru apa lagi ? karena cita-cita masa kecil adalah keinginan paling dasar dan jujur melekat dan terpatri dalam diri setiap diri manusia. Akhirnya yang tersisa adalah hanya satu yaitu prinsip "sudah terlanjur menceburkan diri di rantau "kota besar" maka saya harus bisa bertahan hidup "survive" disini dengan segala kesulitan dan ketidakpastian yang terpampang luas didepan. Hari-hariku berikutnya memang sangat sulit, hidup dengan menumpang berpindah-pindah ikut orang, tidak ada saudara, tidak ada pekerjaan, dan serentetan kesulitan lain karena sudah tidak mungkin lagi aku menggantungkan / meminta uang kepada ortu dikampung yang hidupnya juga pas-pasan.
Sempat lama dalam kondisi yang tidak pasti akhirnya aku bisa mandiri dengan pekerjaan ala kadarnya, pernah mencoba menjadi pencuci mobil, kerja serabutan lainnya, dan di pabrik spare part mobil berawal dari buruh kasar sampai akhirnya menjadi staff pembantu accounting. Disela-sela kesibukan pekerjaan saya berusaha memanfaatkan waktu yang sempit untuk belajar, diantaranya dengan mengikuti kursus komputer yang memang ketika itu menyita lebih perhatian saya. Bagaimana tidak, komputer adalah dunia baru yang menarik bagi saya justru ditengah ketidaktertarikan orang-orang sekitar saya, akhirnya ketika suatu saat diperusahaan ada komputer dan dibutuhkan hanya sayalah satu-satunya orang yang bisa mengoperasikan komputer sampai akhirnya seluruh staff tempat saya bekerja saya ajari dan bisa semua-muanya.
Dengan berbekal ilmu komputer hasil kursus dan belajar otodidak akhirnya saya mulai berfikir untuk mencari pekerjaan lain yang lebih cocok dan sesuai dengan ketertarikan saya dibidang komputer. Saya putuskan untuk belajar dibidang hardware untuk mendukung kemampuan saya karena kebetulan sekitar tahun 1994 akhir saya baca dikoran ada lembaga pendidikan (DTC Computer) yang membuka kursus singkat hardware (merakit komputer, trouble shooting, jaringan), tanpa pikir panjang saya ambil. Lulus kursus kebetulan dilembaga tersebut membutuhkan karyawan untuk mengisi dibagian hardware karena selain kursus juga membuka penjualan hardware komputer, tanpa pikir panjang meskipun gaji saya turun jauh dari pekerjaan existing saya ambil saja padahal waktu itu saya sudah menanggung beban seorang istri dan satu orang anak pertamaku yang masih kecil.
Singkat kata itulah awal dari seluruh pekerjaan terakhir yang saat ini saya lakoni di PT. USSI - Bandung, sejak tahun 1995 telah melalui pasang surut, naik turun diterpa berbagai kesulitan, beberapa kali ber-aliansi dan berganti nama hingga bertahan sampai saat ini menjadi perusahaan IT terkemuka di Indonesia yang men-develop Aplikasi Lembaga Keuangan dan Perbankan Mikro baik konvensional maupun syari'ah.
Demikian riwayat perjalanan seorang Masjito sejak kecil hingga saat ini terdampar di kota Bandung (Cimahi) sebagai pelabuhan terakhir (Insya Alloh). Sekarang saya tinggal di tengah Kota CIMAHI tepatnya di Komplek KOTA MAS bersama istriku yang setia dan 2 orang anak perempuan yang cantik dan selalu menjadi motivasiku : Arum Puspa Amalia (SMA kelas 2) dan Shofi Nabila Ilyasa (SD klelas 4). Tidak mungkin menuliskan semuanya secara detail disini tapi setidaknya saya sudah mencoba berbagi cerita, mudah-mudahan ada pelajaran yang pengunjung bisa ambil dari sekelumit cerita ini. Terima kasih.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
Masjito
Visitors :29246 Org
Hits : 142275 hits
Month : 623 Users